Pages

Friday, May 8, 2009

Bergegas untuk segera ber"tindak"

Judulnya sengaja dikasih tanda petik, karena kata "tindak" bisa bermakna ganda bagi daya dan dua-duanya benar.

1. bertindak dalam bahasa indonesia adalah berbuat/melakukan sesuatu
2. tindak dalam bahasa jawa halus artinya pergi

Kedua arti tersebut sama-sama benar untuk kondisiku sekarang ini. Dalam tempo yang sangat singkat dan mepet ini, saya benar-benar harus segera bergerak untuk menyelesaikan thesis. Apalagi tadi suami bertemu dengan supervisor saya dengan titip pesan, "next week she have to submit to me the previous correction and the literature review." 
Itu artinya harus rodo ngoyo, rodo mempeng , rodo tenanan, mana sekarang dah Sabtu lagi, mana harus nganter anak-anak ke Ipoh lagi, subhanallah...

Kulirik kalender, sekarang sudah tanggal 9, padahal tanggal 2 bulan depan tiketku pulang ke Yogya. Jelas waktu tak sampai sebulan untuk mengerjakan banyak hal. Ngebut seperti Pak Wawan harus kulakukan. 

Ingat pulang, artinya kami mau bepergian untuk pulang kampung. Nah, cocok kan "tindak" yang kedua. Biar akur, digabung saja lah dua arti ini, saya harus buru-buru bergerak untuk menyelesaikan segala urusan untuk bisa tindak-tindak pulang.

Itupun, dalam hitung-hitungan kami, ternyata nggak bisa 3 minggu pure menemani anak-anak dan berkunjung ke handai taulan dan teman-teman. Sepertinya, kami harus cabut segera setelah ngedrop anak-anak karena urusan-urusan yang harus dirampungkan. Tiga-empat hari di Indonesia, kami harus balik ke sini dulu, kemudian jemput anak-anak lagi, jadi harus boros nih... terpaksa memang, tapi belum ada pilihan lain.

Semoga Allah mudahkan semua urusan hamba yang dhaif ini.

Thursday, May 7, 2009

Nyempetin Barang 5 Menit

Setiap kali anak-anak buka blog ini, trus pada tanya, "Mana yang baru lagi? Mau baca ceritanya lagi". "Hmmm... nggak tahu aja uminya lagi pusing bin pening, "gumamku. Tetap saja pertanyaan sekaligus permintaan ini kudiamkan (baca: kucuekin). Herannya, pertanyaan yang sama koq sering banget diulang-ulang sih... "Mana ceritanya? ayo lah Miiii...... ," begitu rengekan Ubai diulang-ulang.

Sebenarnya pingin juga sih sering ngisi blog, tapi................. bla bla bla, alasannya nggak usah disebutin, nggak menarik!!
Eh, ternyata blog ini menarik bagi anak-anak?? Cling cling, ada ide keluar dari kepalaku, kalo mo diilustrasikan mungkin pake gambar di atas kepala trus dikasih garis2 nyebar gitu biar sepertinya 
kayak gambar berlian gitu loh...

Nah, jadinya Umi sekarang nulis pesan saja ke anak-anak, terutama Mas Ali dan Mas Ubai, baca baik-baik ya....

Begini ni, anak-anakku sayang... hayoooo pesan Umi ini diinget ya....

  1. Ingat sholat 5 waktu dan mengaji
  2. Jaga kerapian kamar, rumah dan badan
  3. Selalu nurut Umi dan Abi
  4. Selalu bersikap manis dan sopan
  5. Banyakin belajar bukan mainnya

dah itu dulu ya.... baca dan amalkan, insya Allah kalo dikerjakan Umi dan Abi tambah sayang. 
Kalo Mas-mas nggak nurut, malu nggak kalo umi posting cerita-cerita tentang Mas-mas yang nggak nurut di sini hayoooooooooooo ???? :)


Tuesday, February 17, 2009

Saatnya mata memandang


Ini dia beberapa photo yang berhasil dijepret dari taman di depan rumahku.

Saturday, February 7, 2009

Kangen Kampung Halaman, disusul nekat beli tiket










Setitik rindu terus tumbuh dari dalam dada, berkembang dan berkembang sampai seakan tak terbendung. Ketika dari hari ke hari anak-anak selalu menanyakan "kapan kita pulang ke Indonesia?" serasa titik-titik kerinduan makin membentuk genangan air.

Saya bubuhkan 3 photo anak-anak saat masih kecil, kira-kira ini adalah pada saat Ali selesai TK, ubai selesai play group dan Atika mulai suka lari, 2004, hampir lima tahun 5 tahun yang lalu. Juni nanti Atika insya Allah lima tahun.

Rasa kangen keluarga, kangen rumah yang dulu kami huni, keceriaan bersama teman-teman dan kebersamaan dengan kawan-kawan dalam meneguk ilmu juga selalu teriang-iang. Anak-anak selalu saya hibur, "Tunggu nanti ada kesempatan, umi dan abi masih sibuk". Alhamdulillah jawaban ini kadang berhasil menghibur anak-anak. Tapi tiap teringat lagi selalu itu dan itu lagi pertanyaannya, "kapan pulang".

Ali dan Ubai sudah besar, setiap saya buka site dari berbagai maskapai penerbangan, mereka selalu ikut baca dan takjub dengan angka yang tertera di web saat saya mensimulasikan keberangkatan lima orang untuk ke Indonesia. Karena angkanya besar, jadi semakin mudah untung "menenangkan" mereka. Yang lucu hanya Atika, karena Atika belum bisa mengerti, tiap saat Atika nanyain hal yang sama, ditambah omongan "di Indonesia enak, ada baju baru", katanya dengan sangat polos dan sambil mulutnya mucu-mucu.

Saya pun walaupun tua juga kangen dong, tapi masih bisa nahan diri. Nah pikir punya pikir kenapa saya nggak juga kelar-kelar nulis thesis ya, kalau tidak selesai karena nggak ada pemacunya kan sama juga boong. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk beli tiket pulang. Insya Allah maunya pulang bulan Juni awal, selama 3 minggu. Tiket dah ada, rencana dah dibuat, tinggal menunggu apa yang Allah telah tetapkan. Semoga kenekatan ini menjadi
spirit baru agar saya segera menyelesaikan writing, amin.

Saturday, January 24, 2009

Thursday, January 22, 2009

Yang Mudah dan Mengenyangkan


Bukan istimewa dilihat, mungkin tak semua mata mau melirik. Tapi alhamdulillah, makanan yang sederhana cara buatnya ini cukup disukai keluarga kami. Ide awalnya sederhana, menjaga kondisi perut yang kosong di saat umi "keset masak" hi hi hi.
Training pembuatan roti bakar dah dilaksanakan berkali-kali. Pesertanya ubai, dan ali, trainernya Abahnya anak-anak. Alhasil, seisi rumah sudah pandai menyiapakan roti bakar aneka rasa kecuali si kecil Atika.
Roti bakar sering jadi menu wajib pagi hari. Di siang atau pun sore kalau sempat dan pas kepingin dengan cepatpun roti bakar ini bisa terhidang, alhamdulillah.
Resepnya tentu tidak perlu, cuma diisi dengan margarine (di sini pakenya planta, merk dari unilever Malaysia), trus kadang diisi gula pasir atau keju. Trik yang buat enak lagi, margarine ngolesnya jangan cuma di dalam, tapi yang bagian luar juga dikasih, hmmm roti tawar yang awalnya biasa, bisa jadi lebh yummy.. Bener, buktinya roti yang di foto bikinan "si Abi" itu dah habis sekarang. Alhamdulillah.

Monday, January 19, 2009

Menata Hati

Beberapa hari yang lalu adek ipar menghubungiku dan menceritakan soal kesusahan yang sedang dihadapinya. Sebagai kakak dan muslimah yang mengerti bahwa antar sesama harus saling memberikan kebaikan, saya harus menghiburnya. Masalah tersebut berhubungan dengan keadaan perusahaan di mana dia dan adikku kerja, perusahaan itu sedang mengalami suatu kasus. Sehingga kelanjutan pekerjaan mereka belum jelas. Tentu bisa dibayangkan, setiap masalah, sangat berat untuk dirasakan.

Tuntunan pertama untuk seorang muslim yang sedang mengalami musibah adalah sabar dan tawakkal menyerahkan semua kepada Allah Ta'aalaa.

Nasihat yang kuberikan untuk mereka hanyalah (satu) usaha untuk mencari jalan keluar dengan ikhtiyar duniawi (tampak mata) sebagai manusia, untuk menjalani sebab datangnya jalan keluar. (Kedua) adalah memasrahkan segala sesuatu kembali kepada Sang Khaliq Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur. Sudah tentu doa (yang ketiga) dan ini adalah usaha terdahsyat yang bisa dilakukan untuk memohon jalan kepada Illahi Rabbi. Kenapa doa yang oleh sebagian manusia dianggap remeh dengan kalimat-kalimat "ah hanya doa" justru merupakan hal yang paling besar?? Tidak lain dan tidak bukan karena tidaklah keluar doa dari seorang hamba kecuali dengan keimanannya.

Orang yang tidak percaya akan "kehebatan" doa tentu akan malas berdoa, atau berdoa dengan ragu-ragu. Tapi jika seorang mukminin, akan berdoa dengan setulus hati dan penuh keyakinan akan kebesaran Allah dalam mengatur alam semesta ini. Betapa tidak, jika tidak seketika doa itu terkabulkan, akan muncul sifat husnudzan, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Segala sesuatu telah berjalan dalam hikmahNya. Dan seorang mukmin juga tahu bahwa doa bisa dikabulkan dan bisa diabaikan, oleh sebab itu insan yang telah memanjatkan doa akan senantiasa berharap dan was-was akan keadaan doanya. Seandainya keadaan yang terjadi tidak seperti yang dia inginkan, tetap dia husnudzan dan instropeksi akan keadaan dirinya sendiri sebagai manusia yang penuh dengan dosa.

beberapa saat yang lalu saya berbagi doa ke adik dengan doa yang telah dituntunkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalaam:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.


“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”[1]



Sungguh doa ini pun patut diucapkan setiap muslim, termasuk saya sendiri.

Subhanallah, doa ini pun sangat pas dengan kondisiku sekarang ini. Yang karena suatu hal, yang tidak perlu saya tumpahkan di blog ini, hati saya pun sangat sakit, sedih karena seseorang.

Alhamdulillah, beruntung sekali Allah memberiku jalan untuk menjadi Muslimah. Setelah mengerti bahwa tuntunan Islam begitu lengkap bagi hamba yang sangat lemah dan penuh kekurangan seperti saya ini. Semakin terharu sekali Akan kasih sayangNya lah aku menjadi seorang yang tetap diteguhkan untuk dalam cahaya fithroh Islam ini. Terima kasih Allah, Alhamdulillah.

Semoga Allah memudahkan diri yang sangat fakir di sisi Allah ini, untuk menata hati, walaupun terasa berat di dadaku. Jujur kuakui, karena problem yang menyandungku ini telah membuat hatiku kurang bersemangat dan "kepikiran". Qadarullahu Wa Maasyaa fa'al" itu justru penamparku saat menjelang symposium ku yang terakhir (hari Kamis 14 Januari 2009).

Biarlah ini menjadi liku-liku perjalanan hidup seorang Etik. Seorang perempuan yang lemah di hadapan Allah. Namun ketika kulihat apa yang harus aku hadapi di depan, kucoba untuk tegar menyongsong tanggung jawab yang lebih besar sebagai hamba Allah. Jangan terlalu larut dengan kerikil-kerikil kehidupan, tapi lebih banyak memperbaiki diri saja, banyak mengejar ilmu yang harus kudapat, sebagai manusia aku tidak boleh terlalu lalai. Pekerjaan rumah tangga, pekerjaan sekolah sampai kewajiban thalabul ilmi dan madrasah untuk anak-anakku.

Kakiku kadang berat untuk melangkah, tangan ku pun kaku untuk menulis dan bekerja. Hanya pertolongan Allah yang kunanti. Alhamdulillah, masih ada suami, anak-anakku, sahabat dan saudara seiman yang masih mau memberiku semangat untuk terus melanjutkan gerakku. Aku masih diperlukan oleh orang-orang terdekatku. Kucoba untuk kembali tersenyum, mengharap masa depanku nanti senantiasa dibukakan ke jalan yang lurus. Akan keceburkan diriku ke dalam urusan yang lebih manfaat daripada sekedar bergundah gulana. Ya Rabb tolonglah hamba.

Bukankah setiap kita senantiasa diberi cobaan sebelum dimasukkan dalam kategori beriman. Allahu A'lam.

[1] HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalaam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.