Saturday, October 8, 2011
Kangen Ngeblog
Thursday, May 26, 2011
Setahun Lebih
Gubrak, kaget sekali, lama sekali nggak memberi perhatian pada blog ini. Ternyata oh ternyata sudah 1 tahun lebih sejak tulisan terakhir. Eits, masalahnya kenapa sampai menganaktirikan blog ini. Ngapain aja hayooo...
Terakhir nulis adalah Februari tahun lepas. Yups, tepatnya menjelang ditinggal suami pulang ke Indonesia. Bener2 melelahkan ngurusin semua sendiri, jaman itu pun belum pinter nyetir lagi. Hihi, posting terakhir pun judulnya soal nyetir.
Bukan jalan terbaik membela diri tapi mending dirunut saja, apa yang sudah dilakukan setahun kemarin. Istilahnya apa ya... refleksi gituuu, kok kayak pijet ya?
Entah apa istilah kerennya, gak tahu. Tapi beberapa yang kelihatan tercatat adalah:
1. Awalnya kami berempat, aku dan 3 anak2ku. kemudian bulan Juni lalu anak tengah diambil ayahnya untuk pindah sekolah. Hal ini terjadi karena mengendalikan 3 orang anak sekaligua ternyata tidaklah mudah.Dan akhirnya aku pun give up.
2. Bulan Maret aku mulai usaha baru dengan berjualan baju2 muslimah via FB. Jaman itu kami berdua, aku dan teman dekatku.
Tidak mudah melalui merintis, apalagi soal waktu. Sampai sekarang seiring masih berjalannya usaha itu, masalah managemen waktu tetep jadi masalah.
Masalah lain, entah ini musibah atau bukan, akhirnya usaha pecah, sehingga sekarang usaha jalan sendiri, dibantu tenaga yang 1/2 profesional.
3. Urusan kuliah selalu menghantui, lah loh, sapa suruh juga kuliah. Beban2 sekolah tentu menggelayuti pikiranku. Disamping urusan domestik soal anak, urusan rumah dll.
4. Saat-saat cukup berat kurasakan saat perpisahan dengan temanku. Yah, semua sudah disuratkan dan keyakinan yang selalu harus dipegang adalah husnudzan dengan ketetapan Allah, pasti hikmah di balik itu semua jauh lebih besar. Jadi kecewa, sedih dan apa2 yang negatif harus dicounter.
5. Kesibukan dan rutinitas yang berputar seiring waktu, tidak terasa memang mengharuskan setidaknya sementara waktu tidak ketak ketik di halaman2 blog yang ada.
Blog ini, blog lain yang nulis soal belajar baca kitab juga terlantar.
6. Optimis tetep dipegang. Itu harus, walau tak menulis, tetap ada kegiatan baca, yang menjadi proses ku belajar. Banyak nilai2 baru yang menggugurkan beberapa pikiran lama yang dulu kupegang. Insya Allah bukan soal fital dalam akidah, tapi menurutku cukupurgen sebagai bekal melangkah.
Sepertinya untuk tulisan sederhana, ini cukup untuk mengulas dengan singkat apa yang kulakukan kemarin.
NB
Saat nulis ini, pikiranku melayang ke orang2 yang kusayangi, suami, anak, dan orang tua di seberang sana, rinduku selalu di dadaku. Spirit untuk menjadi lebih baik lagi, akan kupupuk agar kita segera kembali bersatu.
Hamba yang sangat lemah
Etik Ummu Ali
Tuesday, February 9, 2010
Harus Bisa Nyetir Sendiri
Tuesday, November 10, 2009
Bahasa Arab memang penting
Ngitik-ngitik Anak Agar Bisa Membaca II
Atika, anak ketiga kami, dulu tampak tidak bersemangat untuk belajar, bahkan mengalami 'ketakutan' untuk belajar. Tanpa ingin mengkambinghitamkan siapa pun, usaha ngelitikin Atika memang penuh tantangan. Ketakutan akan guru dan suasana belajar kayaknya merupakan beberapa penyebab. Peran ibu sangatlah vital dalam proses pembelajaran anak. Karena itu, suasana belajar mau tidak mau disesuaikan dengan karakter anak. Seorang anak mempunyai karakter yang unik. Tidak ada seorangpun yang punya karakter sama plek. Makanya saya pun jadi harus manut ke Atika.
Atika sangat seneng mainan, apapun jadi mainannya. Nah, oleh karena itu saya mulai nyelipin 'mainan' baru. Tentunya mainan ini mempunyai korelasi dengan tujuan membacanya. Warna- warna mencolok jelas menarik untuk anak kecil. Mulailah saya buatkan tulisan kosa kata pada kertas lipat warna warni. Lumayan siihh... mulai muncul minat, ngenalinnya juga sedikit demi sedikit. Ternyata nggak tiap hari mau loh.... duh enggak mudah ternyata 'menaklukkan' anak.
Saat semangat Atika menurun, alhamdulillah dengan sedikit memutar otak, tiba-tiba muncul ide. Dengan sentuhan cerita dan dibuat permainan Atika mau lagi tersenyum dan belajar kembali. Dari disusun niru kereta api, mainan tebak2an seperti penyulap, pokoknya ganti-ganti, habis Atika sangat bosenan.
Kartu-kartu tadi ternyata umurnya nggak panjang, karena nggak dilirik lagi sama Atika, untung... pikirku, kan cuma buat sendiri nggak pake acara beli yang mahal-mahal. Mainan baru harus disodorkan biar menarik si kecil. Gantilah beli kertas tebal yang biasa untuk sampul ukuran A4, pilih warna2 menarik dan wangi. Atika saya libatkan untuk membuat mainannya. Kertas-kertas digunting dengan pola baju, rok, kerudung. Masing-masing kembali ditulisi suku kata. Alhamdulillah ada efeknya... kosa kata yang dikenali bertambah. Ketika baju, rok, celana, kerudung suku kata tadi dipilih oleh Atika tidak disadari Atika telah belajar. "Princes mo pake baju mana?", pertanyaan yang sama selalu diulang-ulang. Atika menjawab dengan gembira, " pi, na, fa...". Saya senyum-senyum sendiri, dalam hatiku kayak mainan bongkar pasang yang dulu populer waktu saya SD.
Disela-sela anak bermain, buku juga dikenalkan. Buku dari tempat sekolah, buku yang kujadikan acuan, juga buku-buku tambahan lain ikut membantu sebagai pedoman. Belajar juga nggak bisa tiap hari, sepanjang ada 'angin segar' baru belajar. Alhamdulillah... perlahan-lahan Atika mengalami kemajuan. Pelajaran masih di awal, minat anak yang diharapkan adalah minat yang tumbuh dari dirinya sendiri. Saya hanya pingin menrangsang, bukan menyuruh terus. Tapi... ternyata baru sampai kosa kata bervokal a - i - u. Nggak patah arang saya, toh dulu cuma bisa a saja.
Pelajaran membaca kosa kata dengan vokal e - o mulai dikenalkan dengan media lain, yang dulu dah lewat. Nggak menarik lagi. CD yang dulu pernah dibeli dibongkar lagi dari laci. ALhamdulillah mau... walaupun ternyata cuma sekali. Besoknya lagi Atika disuguhi animasi sederhana bikinan sendiri, alhamdulillah jelek-jelek memberi bekas pada Atika. Sedikit pun tetap harus disyukuri. Sayangnya saya juga nggak bisa setiap hari ngedhep untuk ngajak Atika dan nyimak dia belajar. Males atau sibuk?? hehehe nggak usah dijawa saja lah...
Perkembangan terbaru sudah makin menggembirakan, Atika sudah belajar membaca huruf mati di belakang. Medianya juga dah ganti lagi (capek sebenernya ganti-ganti terus, pake bikin dulu lagi). Kali ini membuat slide pake power point dihiasi dengan gambar-gambar sesuai pesanan Atika. Kadang diselingi buku juga (tetep...). Karena saya lagi ada yang dikerjakan, sementara ini, maka bmbingan untuk Atika banyak terhenti, terutama yang ada nuntut keaktifan ibu. Duhai Atika sayang..., maafin umi ya....
ALhamdulillah sekarang Atika mulai mau mencoba membaca buku sendiri. Kalimat pendek sih.. dan masih banyak salahnya, tapi itu sudah kemajuan. Walaupun frekuensinya masih jarang, tapi sudah membuat uminya tersenyum, bukan puas tapi menikmati proses perjuangan mendidik anak. Alhamdulillaah... semoga dimudahkan jalan ke depan, dengan pelajaran-pelajaran lainnya.
Wednesday, August 5, 2009
Ngitik-Ngitik Anak Agar Bisa Membaca I
Pada awalnya saya tidak pernah membayangkan betapa susahnya 'ngitik-ngitik' anak agar mau dan bisa membaca. Pengalaman pada anak pertama saya, saya nggak pernah sibuk mengajarkan cara membaca. Tanpa saya bekerja keras tahu-tahu anak bisa membaca sendiri. Pada usia 5 tahun anak saya sudah lancar membaca dengan metodenya sendiri. Setiap ada secuil kertas koran tercecer, atau ketemu bungkus apa saja dibacanya.
Cerita anak kedua ternyata berbeda dari anak pertama, kali ini anak saya susah sekali untuk mau memulai membaca. Berbagai metode agar dia tertarik telah saya cobakan, hasilnya tidak gemilang. Sampai saat itu saya setengah putus asa, kadang malah jadi acara tangis-tangisan, anak saya nangis, sayapun nyusul nangis. Sampai saya ambil kesimpulan anak saya memang belum minat dan saya hanya berharap kelak akan muncul saat dia ingin belajar. Apalagi saat anak kedua saya menginjak usia TK, saya juga mengasuh bayi yang baru lahir. Repot plus susah semakin membuat anak ini kurang tersentuh dalam belajar.
Sekarang, ketika anak kedua saya sudah SD, dengan lika-likunya sudah mulai punya prestasi, alhamdulillah. Walaupun bukan sangat-sangat istimewa, saya sudah bersyukur dan tetap berusaha untuk menumbuhkan minat belajarnya. Pengalaman pada anak kedua sepertinya harus jadi pelajaran untuk perkembangan anak ketiga. Anak ketiga saya sudah 5 tahun sekarang, dia juga menampakan ketakutan dalam belajar. Nah inilah awal kisah penaklukan anak agar bisa membaca.
Hampir-hampir saya kehilangan akal, bagaimana anak saya mau membaca. Di rumah hanya diam saja kalau diajak membaca. Saya mulai berpikir, dia sudah sekolah tadika (serupa TK) hampir 1,5 tahun, tapi perkembangannya tidak tampak dan bisa dibilang stuck saja. Saya betul-betul sedih, apakah anak ini punya masalah. Memang ketika saya amati dan saya tanya dia bilang dia takut kepada gurunya, dia bilang "teacher garang banget". Hhmmm... saya mulai tahu ternyata dia pun menganggap saya begitu, sehingga ketika saya minta mulai belajar membaca buku.
Duh... duh... kayaknya saya harus segera berpikir dan bertindak ni... pikirku. Tidak ada gunanya melihat kekurangan yang ada, terima semua sebagai realita, toh tanggung jawab ada di tanganku. Alhamdulillah semangat untuk 'ngelitikin' Atika, anak ketigaku, cukup besar, berbagai upaya kucoba. Sungguh luar biasa, keyakinan dan kesabaran mulai ada buahnya, alhamdulillah....
bersambung...
Friday, May 8, 2009
Bergegas untuk segera ber"tindak"
Thursday, May 7, 2009
Nyempetin Barang 5 Menit
- Ingat sholat 5 waktu dan mengaji
- Jaga kerapian kamar, rumah dan badan
- Selalu nurut Umi dan Abi
- Selalu bersikap manis dan sopan
- Banyakin belajar bukan mainnya
Tuesday, February 17, 2009
Saturday, February 7, 2009
Kangen Kampung Halaman, disusul nekat beli tiket
![]() | ![]() | ![]() |
Setitik rindu terus tumbuh dari dalam dada, berkembang dan berkembang sampai seakan tak terbendung. Ketika dari hari ke hari anak-anak selalu menanyakan "kapan kita pulang ke Indonesia?" serasa titik-titik kerinduan makin membentuk genangan air.
Saya bubuhkan 3 photo anak-anak saat masih kecil, kira-kira ini adalah pada saat Ali selesai TK, ubai selesai play group dan Atika mulai suka lari, 2004, hampir lima tahun 5 tahun yang lalu. Juni nanti Atika insya Allah lima tahun.
Rasa kangen keluarga, kangen rumah yang dulu kami huni, keceriaan bersama teman-teman dan kebersamaan dengan kawan-kawan dalam meneguk ilmu juga selalu teriang-iang. Anak-anak selalu saya hibur, "Tunggu nanti ada kesempatan, umi dan abi masih sibuk". Alhamdulillah jawaban ini kadang berhasil menghibur anak-anak. Tapi tiap teringat lagi selalu itu dan itu lagi pertanyaannya, "kapan pulang".
Ali dan Ubai sudah besar, setiap saya buka site dari berbagai maskapai penerbangan, mereka selalu ikut baca dan takjub dengan angka yang tertera di web saat saya mensimulasikan keberangkatan lima orang untuk ke Indonesia. Karena angkanya besar, jadi semakin mudah untung "menenangkan" mereka. Yang lucu hanya Atika, karena Atika belum bisa mengerti, tiap saat Atika nanyain hal yang sama, ditambah omongan "di Indonesia enak, ada baju baru", katanya dengan sangat polos dan sambil mulutnya mucu-mucu.
Saya pun walaupun tua juga kangen dong, tapi masih bisa nahan diri. Nah pikir punya pikir kenapa saya nggak juga kelar-kelar nulis thesis ya, kalau tidak selesai karena nggak ada pemacunya kan sama juga boong. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk beli tiket pulang. Insya Allah maunya pulang bulan Juni awal, selama 3 minggu. Tiket dah ada, rencana dah dibuat, tinggal menunggu apa yang Allah telah tetapkan. Semoga kenekatan ini menjadi
spirit baru agar saya segera menyelesaikan writing, amin.
Saturday, January 24, 2009
Thursday, January 22, 2009
Yang Mudah dan Mengenyangkan
Monday, January 19, 2009
Menata Hati
Tuntunan pertama untuk seorang muslim yang sedang mengalami musibah adalah sabar dan tawakkal menyerahkan semua kepada Allah Ta'aalaa.
Nasihat yang kuberikan untuk mereka hanyalah (satu) usaha untuk mencari jalan keluar dengan ikhtiyar duniawi (tampak mata) sebagai manusia, untuk menjalani sebab datangnya jalan keluar. (Kedua) adalah memasrahkan segala sesuatu kembali kepada Sang Khaliq Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur. Sudah tentu doa (yang ketiga) dan ini adalah usaha terdahsyat yang bisa dilakukan untuk memohon jalan kepada Illahi Rabbi. Kenapa doa yang oleh sebagian manusia dianggap remeh dengan kalimat-kalimat "ah hanya doa" justru merupakan hal yang paling besar?? Tidak lain dan tidak bukan karena tidaklah keluar doa dari seorang hamba kecuali dengan keimanannya.
Orang yang tidak percaya akan "kehebatan" doa tentu akan malas berdoa, atau berdoa dengan ragu-ragu. Tapi jika seorang mukminin, akan berdoa dengan setulus hati dan penuh keyakinan akan kebesaran Allah dalam mengatur alam semesta ini. Betapa tidak, jika tidak seketika doa itu terkabulkan, akan muncul sifat husnudzan, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Segala sesuatu telah berjalan dalam hikmahNya. Dan seorang mukmin juga tahu bahwa doa bisa dikabulkan dan bisa diabaikan, oleh sebab itu insan yang telah memanjatkan doa akan senantiasa berharap dan was-was akan keadaan doanya. Seandainya keadaan yang terjadi tidak seperti yang dia inginkan, tetap dia husnudzan dan instropeksi akan keadaan dirinya sendiri sebagai manusia yang penuh dengan dosa.
beberapa saat yang lalu saya berbagi doa ke adik dengan doa yang telah dituntunkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalaam:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”[1]
Sungguh doa ini pun patut diucapkan setiap muslim, termasuk saya sendiri.
Subhanallah, doa ini pun sangat pas dengan kondisiku sekarang ini. Yang karena suatu hal, yang tidak perlu saya tumpahkan di blog ini, hati saya pun sangat sakit, sedih karena seseorang.
Alhamdulillah, beruntung sekali Allah memberiku jalan untuk menjadi Muslimah. Setelah mengerti bahwa tuntunan Islam begitu lengkap bagi hamba yang sangat lemah dan penuh kekurangan seperti saya ini. Semakin terharu sekali Akan kasih sayangNya lah aku menjadi seorang yang tetap diteguhkan untuk dalam cahaya fithroh Islam ini. Terima kasih Allah, Alhamdulillah.
Semoga Allah memudahkan diri yang sangat fakir di sisi Allah ini, untuk menata hati, walaupun terasa berat di dadaku. Jujur kuakui, karena problem yang menyandungku ini telah membuat hatiku kurang bersemangat dan "kepikiran". Qadarullahu Wa Maasyaa fa'al" itu justru penamparku saat menjelang symposium ku yang terakhir (hari Kamis 14 Januari 2009).
Biarlah ini menjadi liku-liku perjalanan hidup seorang Etik. Seorang perempuan yang lemah di hadapan Allah. Namun ketika kulihat apa yang harus aku hadapi di depan, kucoba untuk tegar menyongsong tanggung jawab yang lebih besar sebagai hamba Allah. Jangan terlalu larut dengan kerikil-kerikil kehidupan, tapi lebih banyak memperbaiki diri saja, banyak mengejar ilmu yang harus kudapat, sebagai manusia aku tidak boleh terlalu lalai. Pekerjaan rumah tangga, pekerjaan sekolah sampai kewajiban thalabul ilmi dan madrasah untuk anak-anakku.
Kakiku kadang berat untuk melangkah, tangan ku pun kaku untuk menulis dan bekerja. Hanya pertolongan Allah yang kunanti. Alhamdulillah, masih ada suami, anak-anakku, sahabat dan saudara seiman yang masih mau memberiku semangat untuk terus melanjutkan gerakku. Aku masih diperlukan oleh orang-orang terdekatku. Kucoba untuk kembali tersenyum, mengharap masa depanku nanti senantiasa dibukakan ke jalan yang lurus. Akan keceburkan diriku ke dalam urusan yang lebih manfaat daripada sekedar bergundah gulana. Ya Rabb tolonglah hamba.
Bukankah setiap kita senantiasa diberi cobaan sebelum dimasukkan dalam kategori beriman. Allahu A'lam.
[1] HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalaam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.
Monday, January 12, 2009
Tentang Rumahku
Awalnya rumah yang kami sewa penuh dengan semak belukar. Dulu kami harus kaget dengan hawa panas di rumah. Rumah kami ini didirikan di kawasan bekas tambang timah, sehingga itu juga membuat rasa panas makin menyengat. Lama-kelamaan kami bisa beradaptasi, lingkungan sekitar rumah yang tadinya penuh rumput2 liar sedikit demi sedikit saya tata seadanya. Setidaknya untuk menyejukkan pandangan. Sedikit gambaran di luar rumah saya tampilkan di sini. Bukan ada niatan pamer, toh itu rumah orang juga. Tapi mungkin nanti akan menjadi kenangan manis buat kami terutama buat anak-anak yang masa kecilnya mencicipi suasana tumbuh kembang di sini, jauh dari kampung halaman.Saturday, January 10, 2009
Battery Baru, Alhamdulillah

Sabtu tanggal 20 Januari, saat nunggu anak2 kumon, saya dan abinya anak2 jalan kaki ke green town mall, puter2 cari toko kamera, nggak tahu, nemunya cuma satu toko aja, yang lain paling banyak hp 2nd, ssstttttt kalao mau cari hp 2nd saya merekomendasikan tempat ini loh.... pilihannya banyak amir.Wednesday, January 7, 2009
Rencana Blog Khusus Tentang Masakan
Tapi.. tapi nih, kalau saya sedang switch yang yang satu otomatis yang lain agak tersisih. Contoh kata ni, waktu SMA hobbi saya sedang buat bunga dari pita jepang (bukan pita kado ya, catat!! beda tapi dah salah kaprah) yang disoldir. Buku-buku pelajaran saya tersisih juga. Habis suka sih!! Bahkan sampai menghasilkan uang loh, saya beberapa kali mendapat pesanan dari ibu-bu teman sekolah. Tapi jangan heran kalau sedang suka ngerjain soal-soal matematika (jaman SMA juga) saya nggak sempat utak-atik resep masakan lagi. Dulu sih, ceritanya ingin punya ketrampilan sebanyak-banyaknya.
Kembali ke soal masakan, sedikit cerita ya.. dulu ibuku tidak bisa masak (tahu teori ajah!) yang masakin aku adalah pembantu di rumah. Tapi bapakku termasuk masakannya enak. Tidak puas hati dengan keadaan yang ada (aduh kok nggak syukur ya?? bukan deng ini tantangan), aku bertekat untuk bisa masak yang aku mau. Apalagi kalau dah merasakan lezatnya masakan pesta-pesta besar, wow dahi ini berkerut, kapan ya.. aku bisa masak seperti ini juga.
Nah, dari SD sudah selalu memperhatikan orang masak. Menginjak usia SMP saya memberanikan diri berperan sebagai tukang masak keluarga. Awalnya saya maksain orang-orang di sekitar saya untuk bilang enak. Ternyata memang bilang enak (walaupun belakangan baru aku tahu bilangnya terpaksa hi hi). Sejak itulah, dari masakan lauk pauk dan kue seperti cake, bolu dan biscuit selalu kucoba buat. Hasilnya lumayan aja sih, apalagi belajarnya kebanyakan ya otodidak saja. Sering gagalnya dari suksesnya (walah ngaku saja).
Masak-masak terus berkelanjutan, sampai sekarang. Singkat cerita saya termasuk suka masak, walaupun tidak selalu, asal lagi mood aja. Kalau nggak jangan tanya ya... nanti aku jadi malu. Nah kegitan masaknya belum terdokumenkan. Nah kayaknya sayang juga, secara aku sering masak macam-macam dari yang untuk sendiri, dijual, masakin orang banyak, dari jenis lauk pauk sampai berbagai macam kue dan roti. Insya Allah ada azam, untuk buat blog sendiri tentang masak ini. Rencananya sih hasil masakanku sendiri aja yang saya 'pamerin' sebenarnya bukamo pamer, untuk arsip dan sharing ajah. Tapi nantinya juga pingin merangkum resep2 punya orang, biar kalau mau masak, bisa kayak direktoriku gitu, tidak perlu selalu browsing lagi berulang-ulang. Itung-itung hemat energi.
Dah dulu ya... mau nerusin jahit bed baju seragam Ubai, punya Ali dah selesai yang satu. Eh, tidak lupa mohon doanya teman-teman, kawan-kawan dan keluarga ya... supaya niatku kelakon. Dan yang lebih penting semoga ada manfaatnya, amin.
Saturday, January 3, 2009
Sejarah eggroll pertama ku
Hari Jum'at malam, seperti biasa ke tesco belanja. Nah gara-gara promosi mo imlek semua barang-barang berbau cina dijual dengan harga promosi. Deretan jamur kancing kaleng berbaris di jalan utama masuk tesco. Nah di situlah kulihat eggroll buatan cina mejeng. Ada yang dikemas kecil dan besar dalam kaleng yang warnanya khas cina. Tuing.. kebayang di pikiranku tentang nikmatnya serena eggroll keluaran monde biscuit dari Indonesia. Hmmmm langsung deh nafsu kepinginnya muncul.
Tangan ini ambil kaleng eggroll dipegang-pegang rasa ingin masukin ke keranjang. Masuk dah akhirnya. Setelah troli di dorong, pikiran berubah sayang uangnya kayaknya, 10 RM juga bisa kepake yang lebih manfaat dari pada memuaskan lidah saja. Dengan mantap kaleng eggroll tersebut kuletakkan kembali ke tempat semula. Jalan agi melihat barang-barang yang sedang dipromosikan. Wah ada yang menarik lagi, tidak jauh dari egg roll ni... dijual cetakan eggroll. Wah lebh tergelitik ni... bisa buat egg roll sendiri dan buat kudapan untuk keluarga tercinta.
Karena harga agak mahal, mikir juga sih, tapi ini kan belum pernah punya dan penasaran bisa buat yang ginian. Apalagi kalau rasanya bisa deket ke serena monde gitu loh...
Pikir-pikir akhirnya mantap deh beli cetakan egg roll ini.
Sesampai di rumah jam 1 malam, nggak mungkin dong masak-masak lagi. Tapi langsung browsing tentang resep mesinnya dan lain-lain.
Siang hari setelah pulang dari ngurus sekolah Atika mulailah bereksperimen buat eggroll untuk kali pertama kalinya. Hasil dari madu-maduin beberapa resep, jadilah eggroll ini. AWal sih sih tidak langsung cantik dan berhasil menggulungnya.. Selalu patah-patah setelah diangkat dari ovennya. Akhirnya masuk ke perut deh semua yang gagal. Adonan pertama dah habis namun tidak menyisakan hasil yang memuaskan. Langsung membuat eksperimen berikutnya, dengan mengadoni lagi. Nah tereeeetttt sekarang dah bisa menggulung. Alhamdulillah. Soal rasa, ternyata dekat-dekat lah dengan serena, uwiiih PDnya.
Gambar yang dipajang di sini adalah hasil setelah bakar eggroll yang sudah sukses. Atika melahap eggroll buatan umi deh..
Monday, December 29, 2008
Saya
to saya.
Sunday, December 28, 2008
Ketika Umi harus kuliah lagi
Tulisan ini muncul ketika Etik buka lagi buku lama kesayanganku yaitu ensiklopedi ibu. Yah buku itu sudah banyak memberi inspirasi dalam perjalananku sebagai ibu dan perempuan.
Nah, waktu itu untuk beli buku ini sudah terasa mahal, tapi tetap kubeli karena ada banyak manfaat yang bagiku akan ada gunanya terus menerus. Nah buka dibuka ternyata momcentral punya si penulis itu ada websitenya. Beruntung sekarang sudah ada broadband, langsung deh meluncur ke alamatnya, kalau mau coba lihat di sini.
Dari salah satu tulisan di sana tentang kembalinya mama ke sekolah kok kebetulan hampir mirip yang kualami sekarang. Ternyata dari survei persentase kenaikan masuknya perempuan di sekolah (di tulisan tersebut college) lebih dari 30%. Angka yang besar, pantas lah di UTP pun banyak student perempuan. Ternyata banyak loh.. ibu-ibu yang memilih melanjutkan sekolah ketika anak-anak sudah tumbuh dan berkembang.
Sebagian uraian dari tulisan tadi ada benarnya, kebetulan Etik kuliah lagi juga gara-gara ingin mempertahankan asap dapur terus ngepul hi hi.. Walaupun mungkin beda-beda motivasi masing -masing ibu yang kembali sekolah. Untuk meningkatkan karir? ya.. mungkin itu bagi ibu-ibu yang bekerja, kalau untuk Etik? mungkin kurang tepat, emang karir apaan, tidak punya pekerjaan kayak orang kantoran juga.
Kata tulisan tadi, waktu yang tepat untuk kembali ke sekolah tergantung pada diri masing-masing dan tanya pada diri sendiri. Tapi katanya saat anak sudah masuk sekolah tingkat SD. Mungkin benar juga ya.. anak-anak sudah tidak memerlukan bantuan fisik. Perkiraan ini bisa dong diadopsi untuk memperkirakan kapan ibu bisa mewujudkan keinginan-keinginan lain yang lebih luas. Apa yang kita inginkan, rencanakan dan lakukan ada di tangan kita masing-masing. Yang jelas semua itu akan kita pertanggungjawabkan kelak.
Friday, December 26, 2008
Mengenang Awal Pernikahan
Kenapa tiba-tiba aku ingat? saat kubuat blog ini sama sekali tak terlintas. Bahkan ide mo nulis apa pun belum terlintas. Nah, tiba2 saat ingin menambahkan widget di blog baruku ini, Etik lihat kalender hijriyah yang kupasang, menunjuk tanggal 29 Dzul hijjah. Bukankah dulu aku nikah pada tanggal 23 Dzulhijjah 12 tahun yang lalu. Aiiiih baru ingat lagi, subhanallah cukup lama juga yak!!
Qodarullah, hari ini aku diingatkan bahwa nanti siang ada undangan pergi ke walimah nikahnya teman maya saya Lin dari Ipoh, yah karena kenal dari internet saja, belum pernah saya ketemu dengan dirinya.
Dan... satu lagi yang cukup mengharukan, adik kandung Etik sendiri, dia adalah adik terdekatjuga segera melangsungkan pernikahan, insya Allah besok Ahad.
Uniknya lagi, Kisworo adikku ini juga memutuskan nikah dengan calon istrinya, Lies, dengan media chatting, sms dan telpon saja. Tidak pernah bergaul langsung sebelumnya, besok insya Allah mereka resmi menjadi suami istri. Sedihnya, kami tidak bisa menghadiri pernikahan Kis dan Lies ini. Semoga berkah Allah tercurah untuk keduanya, amin.
Walaupun sempat mengalami pertentangan keluarga karena mendadak dan tanpa kenal langsung ini, insya Allah dua insan ini mantap menuju pelaminan. Maafkan Mbak Etik ya adek-adekku... semoga pintu yang lapang dibukakan untuk kalian berdua untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat.





