Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tuesday, November 10, 2009

Bahasa Arab memang penting

sejak ubai mendapat nilai bahasa arab 30% . ubai menyesal ,jadinya ubai mau belajar bahasa arab.sedikitnya ini yang ubai hafal

inila EXAMPLENYA : qolamun=pintu homsatun=ubai rasa kunci baitun=rumah

babun=pintu masjidi=masjid kitabun=buku kursiyun=kursi

sariirun=tempat tidur maktabun=meja


harap saja ada yang comment
sekian terimakasih yangbetul UBAI





Ngitik-ngitik Anak Agar Bisa Membaca II


Alhamdulillaah, walaupun lama jeda yang ada cukup lama, masih juga diberi kesempatan lagi untuk menulis. Dari tulisan yang pertama, delaynya cukup panjang, sekitar 4 bulan. Apa yang terjadi dan saya lakukan selama empat bulan dalam menggugah semangat anak usia TK untuk belajar membaca lumayan bisa dibagi dalam tulisan kedua ini.

Atika, anak ketiga kami, dulu tampak tidak bersemangat untuk belajar, bahkan mengalami 'ketakutan' untuk belajar. Tanpa ingin mengkambinghitamkan siapa pun, usaha ngelitikin Atika memang penuh tantangan. Ketakutan akan guru dan suasana belajar kayaknya merupakan beberapa penyebab. Peran ibu sangatlah vital dalam proses pembelajaran anak. Karena itu, suasana belajar mau tidak mau disesuaikan dengan karakter anak. Seorang anak mempunyai karakter yang unik. Tidak ada seorangpun yang punya karakter sama plek. Makanya saya pun jadi harus manut ke Atika.


Atika sangat seneng mainan, apapun jadi mainannya. Nah, oleh karena itu saya mulai nyelipin 'mainan' baru. Tentunya mainan ini mempunyai korelasi dengan tujuan membacanya. Warna- warna mencolok jelas menarik untuk anak kecil. Mulailah saya buatkan tulisan kosa kata pada kertas lipat warna warni. Lumayan siihh... mulai muncul minat, ngenalinnya juga sedikit demi sedikit. Ternyata nggak tiap hari mau loh.... duh enggak mudah ternyata 'menaklukkan' anak.
Saat semangat Atika menurun, alhamdulillah dengan sedikit memutar otak, tiba-tiba muncul ide. Dengan sentuhan cerita dan dibuat permainan Atika mau lagi tersenyum dan belajar kembali. Dari disusun niru kereta api, mainan tebak2an seperti penyulap, pokoknya ganti-ganti, habis Atika sangat bosenan.

Kartu-kartu tadi ternyata umurnya nggak panjang, karena nggak dilirik lagi sama Atika, untung... pikirku, kan cuma buat sendiri nggak pake acara beli yang mahal-mahal. Mainan baru harus disodorkan biar menarik si kecil. Gantilah beli kertas tebal yang biasa untuk sampul ukuran A4, pilih warna2 menarik dan wangi. Atika saya libatkan untuk membuat mainannya. Kertas-kertas digunting dengan pola baju, rok, kerudung. Masing-masing kembali ditulisi suku kata. Alhamdulillah ada efeknya... kosa kata yang dikenali bertambah. Ketika baju, rok, celana, kerudung suku kata tadi dipilih oleh Atika tidak disadari Atika telah belajar. "Princes mo pake baju mana?", pertanyaan yang sama selalu diulang-ulang. Atika menjawab dengan gembira, " pi, na, fa...". Saya senyum-senyum sendiri, dalam hatiku kayak mainan bongkar pasang yang dulu populer waktu saya SD.

Disela-sela anak bermain, buku juga dikenalkan. Buku dari tempat sekolah, buku yang kujadikan acuan, juga buku-buku tambahan lain ikut membantu sebagai pedoman. Belajar juga nggak bisa tiap hari, sepanjang ada 'angin segar' baru belajar. Alhamdulillah... perlahan-lahan Atika mengalami kemajuan. Pelajaran masih di awal, minat anak yang diharapkan adalah minat yang tumbuh dari dirinya sendiri. Saya hanya pingin menrangsang, bukan menyuruh terus. Tapi... ternyata baru sampai kosa kata bervokal a - i - u. Nggak patah arang saya, toh dulu cuma bisa a saja.

Pelajaran membaca kosa kata dengan vokal e - o mulai dikenalkan dengan media lain, yang dulu dah lewat. Nggak menarik lagi. CD yang dulu pernah dibeli dibongkar lagi dari laci. ALhamdulillah mau... walaupun ternyata cuma sekali. Besoknya lagi Atika disuguhi animasi sederhana bikinan sendiri, alhamdulillah jelek-jelek memberi bekas pada Atika. Sedikit pun tetap harus disyukuri. Sayangnya saya juga nggak bisa setiap hari ngedhep untuk ngajak Atika dan nyimak dia belajar. Males atau sibuk?? hehehe nggak usah dijawa saja lah...

Perkembangan terbaru sudah makin menggembirakan, Atika sudah belajar membaca huruf mati di belakang. Medianya juga dah ganti lagi (capek sebenernya ganti-ganti terus, pake bikin dulu lagi). Kali ini membuat slide pake power point dihiasi dengan gambar-gambar sesuai pesanan Atika. Kadang diselingi buku juga (tetep...). Karena saya lagi ada yang dikerjakan, sementara ini, maka bmbingan untuk Atika banyak terhenti, terutama yang ada nuntut keaktifan ibu. Duhai Atika sayang..., maafin umi ya....

ALhamdulillah sekarang Atika mulai mau mencoba membaca buku sendiri. Kalimat pendek sih.. dan masih banyak salahnya, tapi itu sudah kemajuan. Walaupun frekuensinya masih jarang, tapi sudah membuat uminya tersenyum, bukan puas tapi menikmati proses perjuangan mendidik anak. Alhamdulillaah... semoga dimudahkan jalan ke depan, dengan pelajaran-pelajaran lainnya.

Wednesday, August 5, 2009

Ngitik-Ngitik Anak Agar Bisa Membaca I


Pada awalnya saya tidak pernah membayangkan betapa susahnya 'ngitik-ngitik' anak agar mau dan bisa membaca. Pengalaman pada anak pertama saya, saya nggak pernah sibuk mengajarkan cara membaca. Tanpa saya bekerja keras tahu-tahu anak bisa membaca sendiri. Pada usia 5 tahun anak saya sudah lancar membaca dengan metodenya sendiri. Setiap ada secuil kertas koran tercecer, atau ketemu bungkus apa saja dibacanya.



Cerita anak kedua ternyata berbeda dari anak pertama, kali ini anak saya susah sekali untuk mau memulai membaca. Berbagai metode agar dia tertarik telah saya cobakan, hasilnya tidak gemilang. Sampai saat itu saya setengah putus asa, kadang malah jadi acara tangis-tangisan, anak saya nangis, sayapun nyusul nangis. Sampai saya ambil kesimpulan anak saya memang belum minat dan saya hanya berharap kelak akan muncul saat dia ingin belajar. Apalagi saat anak kedua saya menginjak usia TK, saya juga mengasuh bayi yang baru lahir. Repot plus susah semakin membuat anak ini kurang tersentuh dalam belajar.

Sekarang, ketika anak kedua saya sudah SD, dengan lika-likunya sudah mulai punya prestasi, alhamdulillah. Walaupun bukan sangat-sangat istimewa, saya sudah bersyukur dan tetap berusaha untuk menumbuhkan minat belajarnya. Pengalaman pada anak kedua sepertinya harus jadi pelajaran untuk perkembangan anak ketiga. Anak ketiga saya sudah 5 tahun sekarang, dia juga menampakan ketakutan dalam belajar. Nah inilah awal kisah penaklukan anak agar bisa membaca.

Hampir-hampir saya kehilangan akal, bagaimana anak saya mau membaca. Di rumah hanya diam saja kalau diajak membaca. Saya mulai berpikir, dia sudah sekolah tadika (serupa TK) hampir 1,5 tahun, tapi perkembangannya tidak tampak dan bisa dibilang stuck saja. Saya betul-betul sedih, apakah anak ini punya masalah. Memang ketika saya amati dan saya tanya dia bilang dia takut kepada gurunya, dia bilang "teacher garang banget". Hhmmm... saya mulai tahu ternyata dia pun menganggap saya begitu, sehingga ketika saya minta mulai belajar membaca buku.

Duh... duh... kayaknya saya harus segera berpikir dan bertindak ni... pikirku. Tidak ada gunanya melihat kekurangan yang ada, terima semua sebagai realita, toh tanggung jawab ada di tanganku. Alhamdulillah semangat untuk 'ngelitikin' Atika, anak ketigaku, cukup besar, berbagai upaya kucoba. Sungguh luar biasa, keyakinan dan kesabaran mulai ada buahnya, alhamdulillah....

bersambung...

Friday, May 8, 2009

Bergegas untuk segera ber"tindak"

Judulnya sengaja dikasih tanda petik, karena kata "tindak" bisa bermakna ganda bagi daya dan dua-duanya benar.

1. bertindak dalam bahasa indonesia adalah berbuat/melakukan sesuatu
2. tindak dalam bahasa jawa halus artinya pergi

Kedua arti tersebut sama-sama benar untuk kondisiku sekarang ini. Dalam tempo yang sangat singkat dan mepet ini, saya benar-benar harus segera bergerak untuk menyelesaikan thesis. Apalagi tadi suami bertemu dengan supervisor saya dengan titip pesan, "next week she have to submit to me the previous correction and the literature review." 
Itu artinya harus rodo ngoyo, rodo mempeng , rodo tenanan, mana sekarang dah Sabtu lagi, mana harus nganter anak-anak ke Ipoh lagi, subhanallah...

Kulirik kalender, sekarang sudah tanggal 9, padahal tanggal 2 bulan depan tiketku pulang ke Yogya. Jelas waktu tak sampai sebulan untuk mengerjakan banyak hal. Ngebut seperti Pak Wawan harus kulakukan. 

Ingat pulang, artinya kami mau bepergian untuk pulang kampung. Nah, cocok kan "tindak" yang kedua. Biar akur, digabung saja lah dua arti ini, saya harus buru-buru bergerak untuk menyelesaikan segala urusan untuk bisa tindak-tindak pulang.

Itupun, dalam hitung-hitungan kami, ternyata nggak bisa 3 minggu pure menemani anak-anak dan berkunjung ke handai taulan dan teman-teman. Sepertinya, kami harus cabut segera setelah ngedrop anak-anak karena urusan-urusan yang harus dirampungkan. Tiga-empat hari di Indonesia, kami harus balik ke sini dulu, kemudian jemput anak-anak lagi, jadi harus boros nih... terpaksa memang, tapi belum ada pilihan lain.

Semoga Allah mudahkan semua urusan hamba yang dhaif ini.

Thursday, May 7, 2009

Nyempetin Barang 5 Menit

Setiap kali anak-anak buka blog ini, trus pada tanya, "Mana yang baru lagi? Mau baca ceritanya lagi". "Hmmm... nggak tahu aja uminya lagi pusing bin pening, "gumamku. Tetap saja pertanyaan sekaligus permintaan ini kudiamkan (baca: kucuekin). Herannya, pertanyaan yang sama koq sering banget diulang-ulang sih... "Mana ceritanya? ayo lah Miiii...... ," begitu rengekan Ubai diulang-ulang.

Sebenarnya pingin juga sih sering ngisi blog, tapi................. bla bla bla, alasannya nggak usah disebutin, nggak menarik!!
Eh, ternyata blog ini menarik bagi anak-anak?? Cling cling, ada ide keluar dari kepalaku, kalo mo diilustrasikan mungkin pake gambar di atas kepala trus dikasih garis2 nyebar gitu biar sepertinya 
kayak gambar berlian gitu loh...

Nah, jadinya Umi sekarang nulis pesan saja ke anak-anak, terutama Mas Ali dan Mas Ubai, baca baik-baik ya....

Begini ni, anak-anakku sayang... hayoooo pesan Umi ini diinget ya....

  1. Ingat sholat 5 waktu dan mengaji
  2. Jaga kerapian kamar, rumah dan badan
  3. Selalu nurut Umi dan Abi
  4. Selalu bersikap manis dan sopan
  5. Banyakin belajar bukan mainnya

dah itu dulu ya.... baca dan amalkan, insya Allah kalo dikerjakan Umi dan Abi tambah sayang. 
Kalo Mas-mas nggak nurut, malu nggak kalo umi posting cerita-cerita tentang Mas-mas yang nggak nurut di sini hayoooooooooooo ???? :)


Tuesday, February 17, 2009

Saatnya mata memandang


Ini dia beberapa photo yang berhasil dijepret dari taman di depan rumahku.

Saturday, February 7, 2009

Kangen Kampung Halaman, disusul nekat beli tiket










Setitik rindu terus tumbuh dari dalam dada, berkembang dan berkembang sampai seakan tak terbendung. Ketika dari hari ke hari anak-anak selalu menanyakan "kapan kita pulang ke Indonesia?" serasa titik-titik kerinduan makin membentuk genangan air.

Saya bubuhkan 3 photo anak-anak saat masih kecil, kira-kira ini adalah pada saat Ali selesai TK, ubai selesai play group dan Atika mulai suka lari, 2004, hampir lima tahun 5 tahun yang lalu. Juni nanti Atika insya Allah lima tahun.

Rasa kangen keluarga, kangen rumah yang dulu kami huni, keceriaan bersama teman-teman dan kebersamaan dengan kawan-kawan dalam meneguk ilmu juga selalu teriang-iang. Anak-anak selalu saya hibur, "Tunggu nanti ada kesempatan, umi dan abi masih sibuk". Alhamdulillah jawaban ini kadang berhasil menghibur anak-anak. Tapi tiap teringat lagi selalu itu dan itu lagi pertanyaannya, "kapan pulang".

Ali dan Ubai sudah besar, setiap saya buka site dari berbagai maskapai penerbangan, mereka selalu ikut baca dan takjub dengan angka yang tertera di web saat saya mensimulasikan keberangkatan lima orang untuk ke Indonesia. Karena angkanya besar, jadi semakin mudah untung "menenangkan" mereka. Yang lucu hanya Atika, karena Atika belum bisa mengerti, tiap saat Atika nanyain hal yang sama, ditambah omongan "di Indonesia enak, ada baju baru", katanya dengan sangat polos dan sambil mulutnya mucu-mucu.

Saya pun walaupun tua juga kangen dong, tapi masih bisa nahan diri. Nah pikir punya pikir kenapa saya nggak juga kelar-kelar nulis thesis ya, kalau tidak selesai karena nggak ada pemacunya kan sama juga boong. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk beli tiket pulang. Insya Allah maunya pulang bulan Juni awal, selama 3 minggu. Tiket dah ada, rencana dah dibuat, tinggal menunggu apa yang Allah telah tetapkan. Semoga kenekatan ini menjadi
spirit baru agar saya segera menyelesaikan writing, amin.